SELAMA beberapa ratus tahun, keberadaan fengshui dalam masyarakat
Tionghoa merupakan hal penting yang diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Mulai dari tata letak rumah, perlengkapan rumah hingga
menentukan posisi rumah.
Salah satu hal yang dihindari masyarakat
Tionghoa, berdasarkan Fengshui, yakni rumah di tusuk sate (titik
pertemuan persimpangan jalan). Pasalnya, warga Tionghoa mempercayai jika
hal tersebut bisa mendatangkan berbagai keburukan bagi penghuninya.
Keburukan b
isa
datang bagi penghuni adalah semua hal bisa terasa serba salah,
kesehatan menurun dan sakit-sakitan, keuangan menipis, dan keharmonisan
keluarga memburuk.
Namun
ada juga penghuni yang cocok dengan lokasi tusuk sate, bahkan tak jarang
mengenai kesehatan, keuangan, dan keharmonisan keluarga justru makin
membaik. Hal ini disebabkan aliran chi yang kuat dilokasi tersebut.
Rumah idaman memang menjadi harapan bagi setiap orang. Namun bagaimana
jika lokasi rumah yang tidak ideal seperti dalam ilmu fengshui disebut
dengan rumah tusuk sate atau letak rumah yang menghadap sejajar dengan
jalan. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa kondisi rumah tersebut
memiliki unsur yang negatif.
Relawan vihara Ling Kuang She, Liem
Ming Tjiang menjelaskan, secara sederhana fengshui berarti tidak melawan
alam atau sesuai dengan arah angin dan air. Posisi rumah tusuk sate
dilihat dari fengshui tidak bagus dan cenderung membahayakan pemilik
rumah itu sendiri.
"Selain harus aman juga nyaman dalam membuat
rumah, menentukan arah yang baik pun sangat penting," ujar Liem kepada
INILAH di Jalan Cibadak, Kota Bandung, Minggu (6/4).
Sementara
itu, aktivis Konghucu Bandung, Fam Kiun Fat mengatakan, rumah tusuk sate
bukan sekedar memiliki pengaruh atau chi yang negatif. Secara hukum
alam, rumah tersebut memiliki resiko kecelakaan yang tinggi jika letak
rumah berada di jalan yang ramai. Hal itu berpengaruh pada strategis dan
tidaknya rumah tersebut.
"Rumah tusuk sate lebih bersifat mitos,
lantaran zaman dulu tentu berbeda, saat ini kan lebih modern, sehingga
secara ilmiah pun dapat dikaji lebih jauh," ujar Fam.
Dia menambahkan, tidak hanya dalam rumah saja, namun dalam aspek kehidupan lainnya. Hanya saja, masyarakat Tionghoa cenderung mempertahankan
tradisi leluhur yang mengarah pada keragaman budaya. Sehingga, fengshui
dianggap sebagai bagian dari budaya Tionghoa yang dapat diimbangi
dengan hal ilmiah.
"Sehingga fengshui bukan bersifat mistis, tetapi penilaian orang zaman dulu dari pengalaman," pungkasnya
penulis : ri - mjgroupsby
( dirangkum dari berbagai sumber )