Rabu, 13 April 2016

Mitos Rumah Tusuk Sate

SELAMA beberapa ratus tahun, keberadaan fengshui dalam masyarakat Tionghoa merupakan hal penting yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari tata letak rumah, perlengkapan rumah hingga menentukan posisi rumah.

Salah satu hal yang dihindari masyarakat Tionghoa, berdasarkan Fengshui, yakni rumah di tusuk sate (titik pertemuan persimpangan jalan). Pasalnya, warga Tionghoa mempercayai jika hal tersebut bisa mendatangkan berbagai keburukan bagi penghuninya.

Keburukan bisa datang bagi penghuni adalah semua hal bisa terasa serba salah, kesehatan menurun dan sakit-sakitan, keuangan menipis, dan keharmonisan keluarga memburuk.
Namun ada juga penghuni yang cocok dengan lokasi tusuk sate, bahkan tak jarang mengenai kesehatan, keuangan, dan keharmonisan keluarga justru makin membaik. Hal ini disebabkan aliran chi yang kuat dilokasi tersebut.
Rumah idaman memang menjadi harapan bagi setiap orang. Namun bagaimana jika lokasi rumah yang tidak ideal seperti dalam ilmu fengshui disebut dengan rumah tusuk sate atau letak rumah yang menghadap sejajar dengan jalan. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa kondisi rumah tersebut memiliki unsur yang negatif.

Relawan vihara Ling Kuang She, Liem Ming Tjiang menjelaskan, secara sederhana fengshui berarti tidak melawan alam atau sesuai dengan arah angin dan air. Posisi rumah tusuk sate dilihat dari fengshui tidak bagus dan cenderung membahayakan pemilik rumah itu sendiri.
"Selain harus aman juga nyaman dalam membuat rumah, menentukan arah yang baik pun sangat penting," ujar Liem kepada INILAH di Jalan Cibadak, Kota Bandung, Minggu (6/4).

Sementara itu, aktivis Konghucu Bandung, Fam Kiun Fat mengatakan, rumah tusuk sate bukan sekedar memiliki pengaruh atau chi yang negatif. Secara hukum alam, rumah tersebut memiliki resiko kecelakaan yang tinggi jika letak rumah berada di jalan yang ramai. Hal itu berpengaruh pada strategis dan tidaknya rumah tersebut.

"Rumah tusuk sate lebih bersifat mitos, lantaran zaman dulu tentu berbeda, saat ini kan lebih modern, sehingga secara ilmiah pun dapat dikaji lebih jauh," ujar Fam.

Dia menambahkan, tidak hanya dalam rumah saja, namun dalam aspek kehidupan lainnya. Hanya saja, masyarakat Tionghoa cenderung mempertahankan tradisi leluhur yang mengarah pada keragaman budaya. Sehingga, fengshui dianggap sebagai bagian dari budaya Tionghoa yang dapat diimbangi dengan hal ilmiah.
"Sehingga fengshui bukan bersifat mistis, tetapi penilaian orang zaman dulu dari pengalaman," pungkasnya



penulis : ri - mjgroupsby 
( dirangkum dari berbagai sumber )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar